Wakil Indonesia Siap Berlaga di World AeroPress Championship 2016
AeroPress merupakan salah satu teknik manual brewing atau penyeduhan kopi secara manual. Alat ini diciptakan oleh Aerobie Inc., pada tahun 2005. AeroPress membuat penyeduhan kopi semakin mudah dengan tingkat keasaman lebih rendah dibanding alat seduh lain.
AeroPress menjadi salah satu manual brewer terpopuler di dunia, termasuk Indonesia. Salah satu faktor yang membuat alat ini populer adalah AeroPress memiliki sifat tahan banting, ringan, mudah dibawa, serta kemudahan dalam perawatan.
Sejak tahun 2008, kompetisi meracik kopi menggunakan AeroPress, World Aeropress Championship (WAC) rutin diselenggarakan. Awalnya, WAC diadakan di Oslo, Norwegia dan delapan tahun kemudian kompetisi ini diikuti lebih dari 50 negara.
Tahun ini, untuk pertama kalinya Indonesia menggelar Indonesia AeroPress Championship (IAC) yang diadakan oleh lembaga pendidikan ABCD School of Coffee.
IAC 2016 digelar pada 13-14 Mei lalu di Clique Bar & Kitchen, Gading Serpong Tangerang. Kompetisi ini diikuti oleh 81 peserta dari 21 kota dari seluruh Indonesia.
Pada babak penyisihan, 81 peserta yang disebut 'pendekar' terbagi menjadi tiga kelompok, yakni kelompok A,B dan C. Masing-masing kelompok akan menghasilkan 9 pendekar terbaik yang akan dipertandingkan pada hari kedua, babak final.
Kiki Hermawan, salah satu peserta yang lolos pada babak final merasa sangat senang dan tidak menyangka kalau dirinya bisa masuk ke babak final. Diakui pria yang pernah bekerja di hotel tersebut, kompetisi ini adalah yang pertama dan cukup sulit karena banyak faktor yang dapat memengaruhi hasil kopi buatannya, mulai dari suhu air, biji kopi, peralatan, dan cara pembuatan.
Durasi saat menekan alat ketika proses pembuatan akan menentukan rasa kopi yang dihasilkan. Jika menekan terlalu lama atau sampai kopi habis maka kopi yang dihasilkan akan terlalu pahit karena antara air dan kopi bersentuhan lama.
Sedangkan Sylvia Ferensia, salah satu dewan juri yang mencicipi dan memilih racikan kopi para peserta mengaku, "Setiap kopi memiliki karakter tersendiri dan proses pembuatan juga sangat memengaruhi. Namun, secara pribadi saya menyukai kopi yang memiliki rasa seimbang, seperti ada rasa pahit, ada rasa asam juga dan saat diminum tidak meninggalkan after taste. Jadi, lembut meski di awal, namun di pertengahan ada banyak macam rasa", ungkapnya.
Setelah melakukan proses penyisihan dan babak final, Prawira Adiguna barista asal Bali berhasil menjadi pemenang IAC 2016 dan akan maju ke WAC Dublin, Irlandia pada Juni 2016 mendatang.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
